A. JUDUL PROGRAM
Pemanfaatan Buah Belimbing Wuluh (Averr hoa bilimbi L) sebagai Cairan
Akumulator Secara Alami dan Ramah Lingkungan.
B. Latar Belakang Masalah
Buah belimbing adalah nama Melayu untuk jenis tanaman buah dari keluarga
Oxalidaceae, marga Averrhoa. Tanaman belimbing dibagi menjadi dua jenis, yaitu
belimbing manis (Averrhoa carambola) dan belimbing asam (Averrhoa bilimbi)
atau lazim pula disebut belimbing wuluh. Belimbing adalah tanaman asli
Indonesia dan Malaysia, yang kemudian menyebar rata di Asia Tenggara seperti
Kalimantan, Filipina, dan ke negara lainnya. Alasannya, karena tanaman
belimbing berasal dari kawasan beriklim kering di Asia Tenggara, seperti halnya
Jawa dan Sumatera. (Lin, 1994).
Banyak tanaman di Indonesia yang sebenarnya dapat memberikan banyak
manfaat, namun belum dibudidayakan secara khusus. Salah satu diantaranya
adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Belimbing wuluh merupakan
tumbuhan berjenis pepohonan yang hidup di ketinggian dari lima sampai 500
meter diatas permukaan laut. Tanaman ini mudah sekali tumbuh dan berkembang
biak melalui cangkok atau persemaian bijinya. Jika ditanam lewat biji, pada usia
3-4 tahun, ia sudah mulai berbuah, yang setahunnya bisa mencapai 1.500 buah
perpohon. Buahnya lonjong, warna buahnya hijau muda bila masih muda, jika
sudah matang berwarna kekuningan kusam, mengandung banyak air dan rasanya
asam segar. Setiap musim belimbing, tanaman belimbing wuluh banyak
menghasilkan buah, dikarenakan buahnya bergerombol. Bisa dimengerti, karena
keasamannya ini kehadiran belimbing wuluh seakan terabaikan. Ia terhitung
jarang ditanam apalagi sampai dikebunkan seperti belimbing manis. Sebab, kata
kebanyakan penggemar tanaman buah, tanamannya saja tidak dapat diandalkan
untuk ditanam di pekarangan sebagai sumber keteduhan. Padahal tanaman ini
mudah ditanam dan diperbanyak. (Lin, 1994).
Selama ini yang sering menggunakan belimbing wuluh adalah masyarakat
Aceh. Pada umumnya mereka mengolah belimbing wuluh menjadi penyedap rasa,
yang disebut asam sunti. Selain itu mereka juga menggunakan air belimbing
wuluh yang diperoleh dari proses pembuatan asam sunti itu untuk mengawetkan
ikan dan daging. Di Jawa tanaman belimbing wuluh banyak dijumpai, namun
banyak yang belum mengetahui khasiatnya. Selain sebagai bumbu masak, ternyata
belimbing wuluh juga bisa digunakan untuk obat dari berbagai macam penyakit,
dan pembersih barang-barang yang terbuat dari logam, kuningan, atau tembaga
dan pakaian. (Eka, 2005).
Berkaitan sifat asam dari yang dihasilkan dari buah Averrhoa bilimbi kita tahu
bahwa cairan yang digunakan dalam sebuah akumulator adalah cairan yang
mengandung tingkat keasaman tinggi. Cairan akumulator yang biasanya
digunakan adalah asam sulfat encer (H2SO4). Pada umumnya, bila akumulator
terus menerus digunakan, aliran akumulator akan habis dan akumulator tidak
dapat berfungsi kembali. Artinya kita harus me-charge kembali akumulator agar
akumulator dapat berfungsi kembali. Selain itu saat ini harga aki relative mahal,
oleh karena itu banyak yang mencoba menggunakan alternatife lain untuk
mengganti cairan aki. Saat ini, penelitian mengenai energi alternative lebih dititik
beratkan kepada energi alternative yang menggunakan bahan-bahan alami dan
bersumber dari alam. Elektrolit dalam batu baterai bersifat asam, sehingga buah
yang bersifat asam dapat menjadi elektrolit. (Sutikno, 2008).
Tanaman Averrhoa bilimbi merupakan tanaman yang menghasilkan buah yang
banyak. Sehingga banyak yang terbuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Apalagi
yang sudah masak, terkadang buahnya jatuh dan membusuk tanpa dimanfaatkan.
Harganyapun sangat murah dan mudah didapat. Jika dibandingkan dengan buah
salak dan asam jawa, belimbing wuluh rasanya lebih bersifat asam, lebih murah,
dan lebih mudah untuk mendapatkannya. Sehingga kita dapat memperoleh cairan
aki dengan mudah dan tidak mengandung bahan kimia (ramah lingkungan).
Cairan dari Averrhoa bilimbi yang telah dihaluskan nantinya akan dimasukkan
dalam sebuah wadah dan dihubungkan dengan pelat yang terbuat dari timbale (Pb)
dan seng.
Ini merupakan sebuah alternative yang dapat digunakan untuk mengganti
cairan asam sulfat encer sebagai caiaran aki, karena buah Avrerhoa bilimbi
mempunyai beberapa kandungan kimia yang bersifat asam seperti: asam oksalat,
asam sitrat, asam tartrat dan asam suksinat, asam format, glukosit, flavonoid,
kalium oksalat, minyak menguap, fenol dan pektin. (Hembing, 2008).
Untuk itu, dalam kegiatan ini akan dilakukan pembuatan cairan akumulator
dari buah Avrerhoa bilimbi yang mempunyai derajat keasaman tinggi.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, perumusan masalah pada penelitian ini
meliputi :
1. Bagaimanakah proses pembuatan cairan akumulator dengan memanfaatkan
buah Averrhoa bilimbi atau belimbing wuluh?
2. Bagaimana dengan keasaman yang dihasilkan?
D. Tujuan
Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah :
1. Dapat membuat cairan akumulator dengan memanfaatkan buah Averrhoa
bilimbi.
2. Dapat mengetahui derajat keasaman yang dihasilkan dari buah Averrhoa
bilimbi.
E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah cairan akumulator yang
terbuat dari buah Averrhoa bilimbi, serta mengetahui derajat keasaman dari cairan
yang dihasilkan.
F. Kegunaan
Dengan penulisan program ini,diharapakan, memberikan informasi tentang
manfaat lain dari tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yaitu :
1. Dapat digunakan sebagai cairan pengisi akumulator yang ramah lingkungan.
2. Mengetahui tingkat keasaman dari cairan yang dihasilkan.
3. Dapat dijadikan referensi penelitian selanjutnya dalam pemanfaatan dan
pengembangan buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) sebagai cairan
alternative aki.
G. Tinjauan Pustaka
1. Akumulator
Akumulator atau sering disebut aki, adalah salah satu komponen utama dalam
kendaraan bermotor, baik mobil atau motor, semua memerlukan aki untuk dapat
menghidupkan mesin mobil (mencatu arus pada dinamo stater kendaraan).
Ada 2 jenis aki, yaitu aki basah dan aki kering. Aki basah, media penyimpan
arus listrik ini merupakan jenis paling umum digunakan.
Aki jenis ini masih perlu diberi air aki yang dikenal dengan sebutan accu zuur.
Selain aki jenis ini, ada beberapa jenis aki basah lainnya :
Low Maintenance
Jenis ini bentuknya mirip dengan aki basah biasa dan tetap punya lubang
pengisian di atasnya.Bedanya, aki ini sudah diisi air sejak dari pabrik.Untuk
pengisian air aki (bukan dengan accu zuur) bisa dilakukan dalam 6 bulan hingga 1
tahun.
Maintenance Free
Aki jenis ini tidak mempunyai lubang pengisian air, meski berisi cairan. Mirip
jenis low maintenance, aki ini juga sudah diisi air dari pabrik. Bahan perak yang
dipakai buat elektroda membuat airnya tidak menguap. Kalaupun menguap akan
dikembalikan lagi ke dalam. Keuntungannya adalah aki jenis ini tidak butuh
perawatan.
Aki Kering, aki jenis ini tidak memakai cairan, mirip seperti baterai telpon
selular. Aki ini tahan terhadap getaran dan suhu rendah. Dimensinya yang kecil
bisa menimbulkan keuntungan dan kerugian. Keuntungannya, tidak banyak makan
tempat. Sedangkan kerugiannya, tidak tepat pada dudukan aki aslinya.
Gambar 1. Jenis-jenis aki
Aki jenis ini samasekali tidak butuh perawatan, tetapi rentan-terhadap
pengisian berlebih dan pemakaian arus yang sampai habis, karena bisa merusak
sel-sel penyimpanan arusnya. (John, 1985).
Allesandro Volta, seorang ilmuwan fisika mengetahui, gaya gerak listrik (ggl)
dapat dibangkitkan dua logam yang berbeda dan dipisahkan larutan elektrolit.
Volta mendapatkan pasangan logam tembaga (Cu) dan seng (Zn) dapat
membangkitkan ggl yang lebih besar dibandingkan pasangan logam lainnya
(kelak disebut elemen Volta). Elemen sekunder ini lebih dikenal dengan aki.
Letak pelat positif dan negatif sangat berdekatan tetapi dibuat untuk tidak
saling menyentuh dengan adanya lapisan pemisah yang berfungsi sebagai isolator
(bahan penyekat). Proses kimia yang terjadi pada aki dapat dibagi menjadi dua
bagian penting, yaitu selama digunakan dan dimuati kembali atau ‘disetrum’.
(a) (b)
Gambar 2. Komponen-komponen aki
2. Reaksi kimia pada akumulator
Pada saat aki digunakan, tiap molekul asam sulfat (H2S04) pecah menjadi dua
ion hidrogen yang bermuatan positif (2H+) dan ion sulfat yang bermuatan negatif
(S04
-). Tiap ion S04 yang berada dekat lempeng Pb akan bersatu dengan satu atom
timbal murni (Pb) menjadi timbal sulfat (PbS04) sambil melepaskan dua elektron.
Sedang sepasang ion hidrogen tadi akan ditarik lempeng timbal dioksida (PbO2),
mengambil dua elektron dan bersatu dengan satu atom oksigen membentuk
molekul air (H2O).
Dari proses ini terjadi pengambilan elektron dari timbal dioksida (sehingga
menjadi positif) dan memberikan elektron itu pada timbal murni (sehingga
menjadi negatif), yang mengakibatkan adanya beda potensial listrik di antara dua
kutub tersebut. Proses tersebut terjadi secara simultan, reaksi secara kimia
dinyatakan sebagai berikut :
Pb02 + Pb + 2H2S04 —–> 2PbS04 + 2H20
Di atas ditunjukkan terbentuknya timbal sulfat selama penggunaan
(discharging). Keadaan ini akan mengurangi reaktivitas dari cairan elektrolit
karena asamnya menjadi lemah (encer), sehingga tahanan antara kutub sangat
lemah untuk pemakaian praktis.
Gambar 3. Proses kimia pada aki
3. Belimbing Wuluh
Belimbing wuluh Avrerhoa bilimbi merupakan tumbuhan berjenis pepohonan
yang hidup di ketinggian dari lima sampai 500 meter diatas permukaan laut.
Tanaman ini mudah sekali tumbuh dan berkembang biak melalui cangkok atau
persemaian bijinya. Jika ditanam lewat biji, pada usia 3-4 tahun, ia sudah mulai
berbuah, yang setahunnya bisa mencapai 1.500 buah. Buahnya lonjong, warna
buahnya hijau muda bila masih muda, jika sudah matang berwarna kekuningan
kusam mengandung banyak air dan rasanya asam segar. Bisa dimengerti, karena
keasamannya ini kehadiran belimbing wuluh seakan terabaikan. Ia terhitung
jarang ditanam apalagi sampai dikebunkan seperti belimbing manis. Sebab, kata
kebanyakan penggemar tanaman buah, tanamannya saja tidak dapat diandalkan
untuk ditanam di pekarangan sebagai sumber keteduhan. Padahal tanaman ini
mudah ditanam dan diperbanyak. (Lin, 1994).
Adapun kandungan energi dan zat gizi dalam belimbing wuluh per 100 gram
berat bersih yaitu:
Tabel 1. Kandungan Gizi Belimbing Wuluh
(a) (b)
Gambar 4. Buah Belimbing Wuluh
No Energi dan Zat Gizi Buah Belimbing Wuluh
1. Energi 32 kal
2. Karbohidrat 7 g
3. Lemak - g
4. Protein 0.4 g
5. Vitamin A - SI
6. Vitamin B1 - mg
7. Vitamin C 25 mg
8. Kalsium 10 mg
9. Fosfor 10 mg
10. Zat Besi 1.0mg
11. Kadar Air 93 g
H. METODE PELAKSANAAN PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Pusat Fakultas MIPA
Universitas Sebelas Maret Surakarta, selama 5 bulan.
2. Alat dan bahan
Alat yang digunakan untuk penelitian ini antara lain:
· Alat :
a. Blender
Blender digunakan untuk menghaluskan sample.
b. Ember plastik
Ember plastik ini digunakan sebagai wadah belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi) yang telah dihaluskan / diblender.
c. Seng ( 20 cm)
Seng digunakan sebagai kutub negative.
d. Tembaga ( 20 cm)
Tembaga digunakan sebagai kutub positif.
e. Kabel jenis NYA atau NYM dengan diameter 2.5 mm2 (1 meter)
Digunakan untuk menghubungkan larutan dengan multimeter digital.
f. Multimeter digital
Multimeter ini dipakai untuk mengukur tegangan yang dihasilkan
oleh larutan.
g. Alat pengukur keasaman cairan
Alat ini digunakan untuk mengetahiu tingkat keasaman suatu larutan.
h. Pisau dan jepit buaya
i. Kabel serabut
j. Ember Plastik
· Bahan :
a. Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi)
b. Air bersih ( secukupnya)
3. Metode Penelitian
Prosedur penelitian ini dapat dilihat pada diagram berikut:
Gambar 6. Prosedur Penelitian
Persiapan Alat dan Bahan
Pemblenderan Sample
Set up Alat
Kalibrasi Alat
Pengujian Tingkat Keasaman
Larutan
Pengukuran Tegangan
Analisa dan Pembahasan
Kesimpulan
Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu:
1) Set Up Alat
Set Up alat yaitu menyiapkan alat yang akan digunakan dalam penelitian
ini. Menyiapkan blender, multimeter yang telah disambung dengan kabel,
dimana kabel tersebut telah disambungkan dengan tembaga dan seng.
2) Memblender Sample
Belimbing Wuluh (Averrho bilimbi) yang telah dicuci besih, kemudian
dihaluskan dengan blender, lalu dituangkan kedalam ember plastik.
3) Menguji tingkat keasaman larutan
Belimbing wuluh yang telah dihaluskan tersebut, diuji kadar keasaman
larutannya.
4) Memasukkan seng dan logam
Seng dan Logam dimasukkan ke dalam ember plastik yang telah terisi
belimbing wuluh (Averrho bilimbi) yang telah dihaluskan, dimana pada ujung
seng dan tembaga tersebut masing-masing telah disambung dengan kabel ke
alat pengukur tegangan.
5) Pengukuran Tegangan
Setelah seng dan tembaga tersebut telah tersambung dengan kabel alat
pengukur tegangan, maka dapat diperoleh tegangan yang dihasilkan dari
larutan belimbing wuluh tersebut.
6) Analisa data dan Kesimpulan
Pada penelitian ini akan diperoleh tegangan yang berbeda-beda, sehingga
dapat dibuat grafik antara tegangan yang berubah-ubah dengan kadar
keasaman yang konstan. Selanjutnya, dilakukan analisa dan dibahas secara
keseluruhan dari grafik tersebut hingga diperoleh kesimpulan.A. JUDUL PROGRAM
Pemanfaatan Buah Belimbing Wuluh (Averr hoa bilimbi L) sebagai Cairan
Akumulator Secara Alami dan Ramah Lingkungan.
B. Latar Belakang Masalah
Buah belimbing adalah nama Melayu untuk jenis tanaman buah dari keluarga
Oxalidaceae, marga Averrhoa. Tanaman belimbing dibagi menjadi dua jenis, yaitu
belimbing manis (Averrhoa carambola) dan belimbing asam (Averrhoa bilimbi)
atau lazim pula disebut belimbing wuluh. Belimbing adalah tanaman asli
Indonesia dan Malaysia, yang kemudian menyebar rata di Asia Tenggara seperti
Kalimantan, Filipina, dan ke negara lainnya. Alasannya, karena tanaman
belimbing berasal dari kawasan beriklim kering di Asia Tenggara, seperti halnya
Jawa dan Sumatera. (Lin, 1994).
Banyak tanaman di Indonesia yang sebenarnya dapat memberikan banyak
manfaat, namun belum dibudidayakan secara khusus. Salah satu diantaranya
adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Belimbing wuluh merupakan
tumbuhan berjenis pepohonan yang hidup di ketinggian dari lima sampai 500
meter diatas permukaan laut. Tanaman ini mudah sekali tumbuh dan berkembang
biak melalui cangkok atau persemaian bijinya. Jika ditanam lewat biji, pada usia
3-4 tahun, ia sudah mulai berbuah, yang setahunnya bisa mencapai 1.500 buah
perpohon. Buahnya lonjong, warna buahnya hijau muda bila masih muda, jika
sudah matang berwarna kekuningan kusam, mengandung banyak air dan rasanya
asam segar. Setiap musim belimbing, tanaman belimbing wuluh banyak
menghasilkan buah, dikarenakan buahnya bergerombol. Bisa dimengerti, karena
keasamannya ini kehadiran belimbing wuluh seakan terabaikan. Ia terhitung
jarang ditanam apalagi sampai dikebunkan seperti belimbing manis. Sebab, kata
kebanyakan penggemar tanaman buah, tanamannya saja tidak dapat diandalkan
untuk ditanam di pekarangan sebagai sumber keteduhan. Padahal tanaman ini
mudah ditanam dan diperbanyak. (Lin, 1994).
Selama ini yang sering menggunakan belimbing wuluh adalah masyarakat
Aceh. Pada umumnya mereka mengolah belimbing wuluh menjadi penyedap rasa,
yang disebut asam sunti. Selain itu mereka juga menggunakan air belimbing
wuluh yang diperoleh dari proses pembuatan asam sunti itu untuk mengawetkan
ikan dan daging. Di Jawa tanaman belimbing wuluh banyak dijumpai, namun
banyak yang belum mengetahui khasiatnya. Selain sebagai bumbu masak, ternyata
belimbing wuluh juga bisa digunakan untuk obat dari berbagai macam penyakit,
dan pembersih barang-barang yang terbuat dari logam, kuningan, atau tembaga
dan pakaian. (Eka, 2005).
Berkaitan sifat asam dari yang dihasilkan dari buah Averrhoa bilimbi kita tahu
bahwa cairan yang digunakan dalam sebuah akumulator adalah cairan yang
mengandung tingkat keasaman tinggi. Cairan akumulator yang biasanya
digunakan adalah asam sulfat encer (H2SO4). Pada umumnya, bila akumulator
terus menerus digunakan, aliran akumulator akan habis dan akumulator tidak
dapat berfungsi kembali. Artinya kita harus me-charge kembali akumulator agar
akumulator dapat berfungsi kembali. Selain itu saat ini harga aki relative mahal,
oleh karena itu banyak yang mencoba menggunakan alternatife lain untuk
mengganti cairan aki. Saat ini, penelitian mengenai energi alternative lebih dititik
beratkan kepada energi alternative yang menggunakan bahan-bahan alami dan
bersumber dari alam. Elektrolit dalam batu baterai bersifat asam, sehingga buah
yang bersifat asam dapat menjadi elektrolit. (Sutikno, 2008).
Tanaman Averrhoa bilimbi merupakan tanaman yang menghasilkan buah yang
banyak. Sehingga banyak yang terbuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Apalagi
yang sudah masak, terkadang buahnya jatuh dan membusuk tanpa dimanfaatkan.
Harganyapun sangat murah dan mudah didapat. Jika dibandingkan dengan buah
salak dan asam jawa, belimbing wuluh rasanya lebih bersifat asam, lebih murah,
dan lebih mudah untuk mendapatkannya. Sehingga kita dapat memperoleh cairan
aki dengan mudah dan tidak mengandung bahan kimia (ramah lingkungan).
Cairan dari Averrhoa bilimbi yang telah dihaluskan nantinya akan dimasukkan
dalam sebuah wadah dan dihubungkan dengan pelat yang terbuat dari timbale (Pb)
dan seng.
Ini merupakan sebuah alternative yang dapat digunakan untuk mengganti
cairan asam sulfat encer sebagai caiaran aki, karena buah Avrerhoa bilimbi
mempunyai beberapa kandungan kimia yang bersifat asam seperti: asam oksalat,
asam sitrat, asam tartrat dan asam suksinat, asam format, glukosit, flavonoid,
kalium oksalat, minyak menguap, fenol dan pektin. (Hembing, 2008).
Untuk itu, dalam kegiatan ini akan dilakukan pembuatan cairan akumulator
dari buah Avrerhoa bilimbi yang mempunyai derajat keasaman tinggi.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, perumusan masalah pada penelitian ini
meliputi :
1. Bagaimanakah proses pembuatan cairan akumulator dengan memanfaatkan
buah Averrhoa bilimbi atau belimbing wuluh?
2. Bagaimana dengan keasaman yang dihasilkan?
D. Tujuan
Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah :
1. Dapat membuat cairan akumulator dengan memanfaatkan buah Averrhoa
bilimbi.
2. Dapat mengetahui derajat keasaman yang dihasilkan dari buah Averrhoa
bilimbi.
E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah cairan akumulator yang
terbuat dari buah Averrhoa bilimbi, serta mengetahui derajat keasaman dari cairan
yang dihasilkan.
F. Kegunaan
Dengan penulisan program ini,diharapakan, memberikan informasi tentang
manfaat lain dari tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yaitu :
1. Dapat digunakan sebagai cairan pengisi akumulator yang ramah lingkungan.
2. Mengetahui tingkat keasaman dari cairan yang dihasilkan.
3. Dapat dijadikan referensi penelitian selanjutnya dalam pemanfaatan dan
pengembangan buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) sebagai cairan
alternative aki.
G. Tinjauan Pustaka
1. Akumulator
Akumulator atau sering disebut aki, adalah salah satu komponen utama dalam
kendaraan bermotor, baik mobil atau motor, semua memerlukan aki untuk dapat
menghidupkan mesin mobil (mencatu arus pada dinamo stater kendaraan).
Ada 2 jenis aki, yaitu aki basah dan aki kering. Aki basah, media penyimpan
arus listrik ini merupakan jenis paling umum digunakan.
Aki jenis ini masih perlu diberi air aki yang dikenal dengan sebutan accu zuur.
Selain aki jenis ini, ada beberapa jenis aki basah lainnya :
Low Maintenance
Jenis ini bentuknya mirip dengan aki basah biasa dan tetap punya lubang
pengisian di atasnya.Bedanya, aki ini sudah diisi air sejak dari pabrik.Untuk
pengisian air aki (bukan dengan accu zuur) bisa dilakukan dalam 6 bulan hingga 1
tahun.
Maintenance Free
Aki jenis ini tidak mempunyai lubang pengisian air, meski berisi cairan. Mirip
jenis low maintenance, aki ini juga sudah diisi air dari pabrik. Bahan perak yang
dipakai buat elektroda membuat airnya tidak menguap. Kalaupun menguap akan
dikembalikan lagi ke dalam. Keuntungannya adalah aki jenis ini tidak butuh
perawatan.
Aki Kering, aki jenis ini tidak memakai cairan, mirip seperti baterai telpon
selular. Aki ini tahan terhadap getaran dan suhu rendah. Dimensinya yang kecil
bisa menimbulkan keuntungan dan kerugian. Keuntungannya, tidak banyak makan
tempat. Sedangkan kerugiannya, tidak tepat pada dudukan aki aslinya.
Gambar 1. Jenis-jenis aki
Aki jenis ini samasekali tidak butuh perawatan, tetapi rentan-terhadap
pengisian berlebih dan pemakaian arus yang sampai habis, karena bisa merusak
sel-sel penyimpanan arusnya. (John, 1985).
Allesandro Volta, seorang ilmuwan fisika mengetahui, gaya gerak listrik (ggl)
dapat dibangkitkan dua logam yang berbeda dan dipisahkan larutan elektrolit.
Volta mendapatkan pasangan logam tembaga (Cu) dan seng (Zn) dapat
membangkitkan ggl yang lebih besar dibandingkan pasangan logam lainnya
(kelak disebut elemen Volta). Elemen sekunder ini lebih dikenal dengan aki.
Letak pelat positif dan negatif sangat berdekatan tetapi dibuat untuk tidak
saling menyentuh dengan adanya lapisan pemisah yang berfungsi sebagai isolator
(bahan penyekat). Proses kimia yang terjadi pada aki dapat dibagi menjadi dua
bagian penting, yaitu selama digunakan dan dimuati kembali atau ‘disetrum’.
(a) (b)
Gambar 2. Komponen-komponen aki
2. Reaksi kimia pada akumulator
Pada saat aki digunakan, tiap molekul asam sulfat (H2S04) pecah menjadi dua
ion hidrogen yang bermuatan positif (2H+) dan ion sulfat yang bermuatan negatif
(S04
-). Tiap ion S04 yang berada dekat lempeng Pb akan bersatu dengan satu atom
timbal murni (Pb) menjadi timbal sulfat (PbS04) sambil melepaskan dua elektron.
Sedang sepasang ion hidrogen tadi akan ditarik lempeng timbal dioksida (PbO2),
mengambil dua elektron dan bersatu dengan satu atom oksigen membentuk
molekul air (H2O).
Dari proses ini terjadi pengambilan elektron dari timbal dioksida (sehingga
menjadi positif) dan memberikan elektron itu pada timbal murni (sehingga
menjadi negatif), yang mengakibatkan adanya beda potensial listrik di antara dua
kutub tersebut. Proses tersebut terjadi secara simultan, reaksi secara kimia
dinyatakan sebagai berikut :
Pb02 + Pb + 2H2S04 —–> 2PbS04 + 2H20
Di atas ditunjukkan terbentuknya timbal sulfat selama penggunaan
(discharging). Keadaan ini akan mengurangi reaktivitas dari cairan elektrolit
karena asamnya menjadi lemah (encer), sehingga tahanan antara kutub sangat
lemah untuk pemakaian praktis.
Gambar 3. Proses kimia pada aki
3. Belimbing Wuluh
Belimbing wuluh Avrerhoa bilimbi merupakan tumbuhan berjenis pepohonan
yang hidup di ketinggian dari lima sampai 500 meter diatas permukaan laut.
Tanaman ini mudah sekali tumbuh dan berkembang biak melalui cangkok atau
persemaian bijinya. Jika ditanam lewat biji, pada usia 3-4 tahun, ia sudah mulai
berbuah, yang setahunnya bisa mencapai 1.500 buah. Buahnya lonjong, warna
buahnya hijau muda bila masih muda, jika sudah matang berwarna kekuningan
kusam mengandung banyak air dan rasanya asam segar. Bisa dimengerti, karena
keasamannya ini kehadiran belimbing wuluh seakan terabaikan. Ia terhitung
jarang ditanam apalagi sampai dikebunkan seperti belimbing manis. Sebab, kata
kebanyakan penggemar tanaman buah, tanamannya saja tidak dapat diandalkan
untuk ditanam di pekarangan sebagai sumber keteduhan. Padahal tanaman ini
mudah ditanam dan diperbanyak. (Lin, 1994).
Adapun kandungan energi dan zat gizi dalam belimbing wuluh per 100 gram
berat bersih yaitu:
Tabel 1. Kandungan Gizi Belimbing Wuluh
(a) (b)
Gambar 4. Buah Belimbing Wuluh
No Energi dan Zat Gizi Buah Belimbing Wuluh
1. Energi 32 kal
2. Karbohidrat 7 g
3. Lemak - g
4. Protein 0.4 g
5. Vitamin A - SI
6. Vitamin B1 - mg
7. Vitamin C 25 mg
8. Kalsium 10 mg
9. Fosfor 10 mg
10. Zat Besi 1.0mg
11. Kadar Air 93 g
H. METODE PELAKSANAAN PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Pusat Fakultas MIPA
Universitas Sebelas Maret Surakarta, selama 5 bulan.
2. Alat dan bahan
Alat yang digunakan untuk penelitian ini antara lain:
· Alat :
a. Blender
Blender digunakan untuk menghaluskan sample.
b. Ember plastik
Ember plastik ini digunakan sebagai wadah belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi) yang telah dihaluskan / diblender.
c. Seng ( 20 cm)
Seng digunakan sebagai kutub negative.
d. Tembaga ( 20 cm)
Tembaga digunakan sebagai kutub positif.
e. Kabel jenis NYA atau NYM dengan diameter 2.5 mm2 (1 meter)
Digunakan untuk menghubungkan larutan dengan multimeter digital.
f. Multimeter digital
Multimeter ini dipakai untuk mengukur tegangan yang dihasilkan
oleh larutan.
g. Alat pengukur keasaman cairan
Alat ini digunakan untuk mengetahiu tingkat keasaman suatu larutan.
h. Pisau dan jepit buaya
i. Kabel serabut
j. Ember Plastik
· Bahan :
a. Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi)
b. Air bersih ( secukupnya)
3. Metode Penelitian
Prosedur penelitian ini dapat dilihat pada diagram berikut:
Gambar 6. Prosedur Penelitian
Persiapan Alat dan Bahan
Pemblenderan Sample
Set up Alat
Kalibrasi Alat
Pengujian Tingkat Keasaman
Larutan
Pengukuran Tegangan
Analisa dan Pembahasan
Kesimpulan
Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu:
1) Set Up Alat
Set Up alat yaitu menyiapkan alat yang akan digunakan dalam penelitian
ini. Menyiapkan blender, multimeter yang telah disambung dengan kabel,
dimana kabel tersebut telah disambungkan dengan tembaga dan seng.
2) Memblender Sample
Belimbing Wuluh (Averrho bilimbi) yang telah dicuci besih, kemudian
dihaluskan dengan blender, lalu dituangkan kedalam ember plastik.
3) Menguji tingkat keasaman larutan
Belimbing wuluh yang telah dihaluskan tersebut, diuji kadar keasaman
larutannya.
4) Memasukkan seng dan logam
Seng dan Logam dimasukkan ke dalam ember plastik yang telah terisi
belimbing wuluh (Averrho bilimbi) yang telah dihaluskan, dimana pada ujung
seng dan tembaga tersebut masing-masing telah disambung dengan kabel ke
alat pengukur tegangan.
5) Pengukuran Tegangan
Setelah seng dan tembaga tersebut telah tersambung dengan kabel alat
pengukur tegangan, maka dapat diperoleh tegangan yang dihasilkan dari
larutan belimbing wuluh tersebut.
6) Analisa data dan Kesimpulan
Pada penelitian ini akan diperoleh tegangan yang berbeda-beda, sehingga
dapat dibuat grafik antara tegangan yang berubah-ubah dengan kadar
keasaman yang konstan. Selanjutnya, dilakukan analisa dan dibahas secara
keseluruhan dari grafik tersebut hingga diperoleh kesimpulan.